Dapatkan kiriman artikel Menarik terbaru Dari Blog TTC langsung ke email anda!


Tampilkan postingan dengan label Kerajinan Tangan Dan Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajinan Tangan Dan Kesenian. Tampilkan semua postingan

Macam-macam khas Serambi Mekah

Rabu, 03 Juni 2009

Oleh Media Tanah Air
Di www.mediaindonesia.com


Puas menikmati tempat-tempat wisata di Banda Aceh, jangan lupa mampir ke sentra-sentra industri kecil dan kerajinan. Banyak barang unik khas Aceh yang layak dijadikan oleh-oleh. Ada sekitar 30 tempat penjualan kerajinan di ibu kota provinsi itu. Masing-masing sentra kerajinan memfokuskan pada salah satu atau lebih barang produksinya.
Misalnya ada daerah yang fokus pada kerajinan tas dan peci motif Aceh atau aneka produk batang kelapa. Ada juga yang menyediakan pelaminan khas Aceh. Soal harga sangat tergantung kepandaian Anda menawar.

Bagi Anda yang menyukai tenunan khas Aceh, bisa mampir di sentra tenun adat di Desa Lamgugop, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Di sentra kerajinan tenun ini bisa juga diperoleh aneka jenis oleh-oleh lain seperti kopi, abon ikan, dendeng, kerupuk kulit, aneka ikan kering, dodol, keukasah, sirup, dsb.

Tetapi, kalau Anda lebih tertarik pada baju bordiran Aceh, bisa mendatangi pusat industri kecil di Kecamatan Banda Aceh, Baiturrahman, Meuraksa, dan Syiah Kuala. Umumnya motif bordiran yang ditawarkan adalah pintu Aceh dan bungong jeumpa (bunga cempaka), bunga khas Aceh.
.
Continue Reading | komentar (2)

Kayu Lukis, Unik dan Bernilai Seni Tinggi

Oleh Agni Rahadyanti
Di Harian Kompas

Jangan remehkan kegemaran mencoret-coret. Dengan ketekunan, ketelatenan, dan pengasahan cita rasa, kegemaran ini bisa menghasilkan karya seni yang indah. Berbagai jenis kerajinan kayu lukis yang bernilai ekonomis cukup tinggi, misalnya, lahir dari kegiatan melukis yang pada dasarnya bisa dilakukan semua orang. Di Barokah's Art & Craft, aneka bentuk kerajinan kayu lukis seperti boneka, kotak perhiasan, asbak, tempat tusuk gigi, mangkuk, topeng, sampai patung diproduksi setiap hari. Perintis Barokah's Art & Craft yang ada di Dusun Ngipiksari, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Ahmad Barokah (35) mengungkapkan, bermacam kerajinan tersebut menggunakan kayu mahoni dan kayu jati sebagai bahan baku.
Proses pembuatan sendiri relatif panjang. "Limbah kayu berdiameter delapan sampai 15 sentimeter dipotong terlebih dahulu, lalu dikupas kulitnya. Setelah potongan kayu dibentuk memakai mesin bubut, dilakukan proses pendempulan untuk menutup pori-pori kayu," kata Ahmad menjelaskan tahap awal pembuatan kerajinan kayu lukis.

Setelah melalui proses pendempulan, dengan kuas-kuas, para perajin mulai melukis di kayu-kayu tersebut. Cat yang digunakan umumnya cat tembok dan arkelik. "Untuk menghasilkan lukisan yang sempurna memang dibutuhkan ketelatenan dan keterampilan khusus," ungkap Ahmad. Kerajinan kayu yang sudah dilukis itu kemudian memasuki tahap finishing sebelum siap dipasarkan. Harga jual produk pun beragam, mulai dari Rp 5.000 sampai jutaan rupiah.

Untuk motif, Ahmad banyak menggunakan motif tradisional dan alam pada produk-produknya. "Untuk motif tradisional, kami banyak melukis wayang. Sedangkan untuk motif bernuansa alam, kami lukis bunga dan dedaunan dengan warna-warna cerah. Di luar kedua jenis motif tersebut kami juga melayani motif sesuai permintaan konsumen," tutur Ahmad sambil menunjukkan sebuah kerajinan berbentuk sepatu dengan motif kincir angin pesanan dari Belanda.

Produk-produk Barokah's Art & Craft sendiri sudah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Bali, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Batam, dan Bandung. Untuk pasar luar negeri, produk mereka banyak dipesan Korea, Jepang, dan Singapura.

Saat ini setiap minggu Ahmad dan 17 tenaga kerjanya memproduksi sedikitnya 200 buah kerajinan dalam berbagai bentuk. Ahmad menambahkan, secara kuantitas, produksi memang menurun dibandingkan dengan beberapa tahun lalu sebelum terjadinya bom Bali serta kenaikan harga bahan bakar minyak. Omzet juga menurun, dari sekitar Rp 40 juta per bulan menjadi sekitar Rp 15 juta per bulan.

Meskipun demikian, berbagai kerajinan kayu lukis tersebut tetap banyak diminati dan masih mampu bertahan di pasar kerajinan. Motif yang unik dan tampak hidup serta tersedianya banyak pilihan membuat kayu lukis mempunyai keistimewaan tersendiri.

Apresiasi terhadap proses pengerjaan manual yang tidak mudah juga semakin menambah nilai kayu lukis. Tantangannya, kerajinan ini harus bisa tetap eksis di tengah membanjirnya produk China sejenis yang dijual dengan harga jauh lebih murah.
.
Continue Reading | komentar (1)

Unsur-unsur Seni Rupa

Kamis, 05 Februari 2009

Bagi sekelompok orang yang memandang sesuatu secara holistik mungkin tidak akan tertarik pada pembahasan tentang unsur, oleh karena unsur merupakan bagian terkecil dari sesuatu yang membentuk kesatuan sistem. Bagi kelompok ini akan lebih tertarik pada prinsip-prinsipnya, apakah karya seni rupa itu secara keseluruhan enak di lihat atau tidak. Namun bagi kelompok atau orang yang berfikiran prakmatis, formal, atau struktural akan mengatakan enak tidaknya suatu karya Seni Rupa itu dinikmati adalah adanya unsur-unsur yang membentuknya.

Untuk kepentingan analisis atau kritik seni pembahasan unsur Seni Rupa atau lebih lazim disebut sebagai Unsur Rupa atau Unsur Desain memang perlu dilakukan beberapa sumber, terkadang menyebut unsur rupa berbeda, akan tetapi dapat ditarik kesimpulan pada dasarnya unsur rupa adalah Garis, Raut, Warna, Tekstur, Ruang dan Gelap Terang.

A. GARIS

Garis merupakan unsur yang paling elementer di bidang Seni Rupa. Dengan hanya meletakkan posisi mata pensil di atas kertas dan selanjutnya digerakkan, maka jejak mata pensil itu akan menghasilkan garis. Oleh karenanya ada yang menyatakan bahwa garis adalah hubungan dua buah titik atau jejak titik-titik yang bersambungan atau berdempetan. Oleh karena itu garis dapat muncul secara rapi atau dapat juga muncul bergigi, bintik-bintik dan sebagainya, arah garis dapat menimbulkan garis lurus, garis lengkung, garis zig-zag. dan garis dapat berposisi tegak, datar, dan melintang.

B. RAUT

Raut adalah tampang, potongan, bentuk suatu objek. Raut dapat terbentuk dari unsur garis yang melingkup dengan keluasan tertentu sehingga membentuk bidang. Raut juga berarti perwujudan atau perawakan dari suatu objek, dalam hal ini raut berarti bangun, atau dalam pengertian lain raut sering dipahami atau dikenal sebagai bentuk atau bidang. Penampilan raut dapat berujud sebagai (1) Raut Geometris, seperti segi tiga, segi empat, lingkaran. (2) Raut Organik atau Biomorfis seperti raut yang terbentuk dari lengkungan-lengkungan bebas. (3) Raut Bersudut berarti raut yang terbentuk dengan banyak sudut atau berkontur garis zig-zag. (4) Raut Tak Beraturan, adalah jenis raut yang terbentuk secara kebetulan seperti tumpahan cat atau semburan cat dan sebagainya.

C. WARNA

Warna merupakan unsur rupa yang memberikan nusansa bagi terciptanya karya seni, dengan warna dapat ditampilkan karya seni rupa yang menarik dan menyenangkan. Melalui berbagai kajian dan eksperimen, jenis warna diklasifikasi ke dalam jenis Warna Primer, Warna Sekunder, Warna Tersier.

Warna Primer : adalah warna yang tidak diperoleh dari pencampuran warna lain, warna pokok atau dengan kata lain warna yang terbebas dari unsur warna-warna lain. seperti ( merah, kuning, biru ).

Warna Sekunder : adalah merupakan pencampuran dari dua warna Primer. misalnya warna biru campur warna kuning jadi warna hijau, warna biru campur warna merah jadi warna ungu atau violet, warna merah campur warna kuning jadi warna orange.

Warna Tersier : Adalah pencampuran dari dua warna sekunder.


D. TEKSTURE

Tekstur adalah sifat atau kualitas nilai raba dari suatu permukaan, oleh karena itu tekstur bisa halus, licin, kasar, berkerut, dan sebagainya. Dalam tekstur visual boleh jadi kesan yang di tangkap oleh mata itu kasar akan tetapi sesungguhnya halus atau sebaliknya. Kita dapat menentukan halus kasarnya suatu permukaan juga dapat merasakan kualitas permukaan antara kertas, kain, kaca, batu, kayu. Sedangkan pada tektur semu kesan yang di tangkap oleh mata tidak sama dengan kesan yang di tangkap oleh perabaan.

E. RUANG

Dalam bidang seni rupa, unsur ruang adalah unsur yang menunjukkan kesan keluasan, kedalaman, cekungan, jauh dan dekat. Dua bidang yang sama jenisnya misalnya lingkaran, akan memberikan kesan yang berbeda jika ukuran ke dua lingkaran itu berbeda. Lingkaran besar akan memberi kesan luas sedangkan lingkaran kecil akan memberi kesan sempit. Jika ke dua lingkaran itu berimpit akan memberi kesan dekat akan tetapi jika diatur berjarak akan memberi kesan ruang yang jauh.

F. GELAP TERANG

Gelap terang berkaitan dengan cahaya, artinya bidang gelap berarti tidak kena cahaya dan yang terang adalah yang kena cahaya. Goresan pensil yang keras dan tebal akan memberi kesan gelap sementara goresan pensil yang ringan-ringan akan memberi kesan lebih terang. Gelap terang dalam gambar dapat dicapai melalui teknik arsir yaitu teknik mengatur jarak atau tingkat kerapatan suatu garis atau titik, semakin rapat akan menghasilkan kesan semakin gelap demikian sebaliknya.

Continue Reading | komentar (2)

SENI TATO dari jaman ke jaman

Kamis, 15 Januari 2009

Tato atau tattoo, berasal dari bahasa Tahiti "tatu" yang konon artinya tanda. Walaupun bukti-bukti sejarah tato ini tidak be- gitu banyak, tetapi para ahli mengambil kesimpulan bahwa seni tato ini sudah ada sejak 12.000 tahun sebelum Masehi.

Dutu, tato menjadi semacam ritual bagi suku-suku kuno seperti Maori, Inca, Ainu, Polynesians, dan lain-lain. Kalau Anda jalan-jalan ke Mesir, coba main- main ke piramid, mungkin Anda bisa menemukan tato tertua di sana. Karena menurut sejarah, bangsa Mesir-lah yang jadi biang tumbuh suburnya tato di dunia. Bangsa Mesir kan dikenal sebagai bangsa yang terkenal kuat, mereka melakukan ekspansi ke negara-negara lain, sehingga seni tato pun ikut-ikutan menyebar luas, seperti ke daerah Yunani, Persia, dan Arab.

Apa alasan bagi suku-suku kuno di dunia membuat tato ? Bangsa Yunani kuno memakai tato sebagai tanda pengenal para anggota badan intetijen mereka alias mata-mata perang pada saat itu. Di sini tato menunjukan pangkat dari si mata-mata tersebut. Berbeda dengan bangsa Romawi, mereka memakai tato sebagai tanda bahwa seseorang itu berasal dari golongan budak, dan tato juga dirajahi ke setiap tubuh para tahanannya. Suku Maori di New Zealand membuat tato berbentuk ukiran-ukiran spiral pada wajah dan pantat.

Menurut mereka, ini adalah tanda bagi keturunan yang baik. Di Kepulauan Solomon, tato ditorehkan di wajah perempuan sebagai ritus untuk menandai tahapan baru dalam kehidupan mereka. Hampir sama seperti di alas, orang- orang Suku Nuer di Sudan memakai tato untuk menandai ritus inisiasi pada anak taki-taki. Orang-orang Indian melukis tubuh dan mengukir kutit mereka untuk menambah kecantikan atau menunjukkan status sosial tertentu.

Tato alias wen shen atau rajah mulai merambahi negara China sekitar tahun 2000 SM. Wen shen konon artinya "akupunktur badan". Pertu diketahui, sama seperti bangsa Romawi, bangsa China kuno memakai tato untuk menandakan bahwa seseorang pernah dipenjara. Sementara di Tiongkok sendiri, budaya tato terdapat pada beberapa etnis minoritasnya, yang tetah diwarisi oteh nenek moyang mereka, seperti etnis Drung, Dai, dan Li, namun hanya para wanita yang berasal dari etnis Li dan Drung yang memiliki kebiasaan menato wajahnya. Riwayat adat-istiadat tato etnis Drung ini muncul sekitar akhir masa Dinasti Ming (sekitar 350 tahun yang talu), ketika itu mereka diserang oleh sekelompok grup etnis lainnya dan pada saat itu mereka menangkapi beberapa wanita dari etnis Drung untuk dijadikan sebagai budak. Demi menghindari terjadinya perkosaan, para wanita tersebut kemudian menato wajah mereka untuk membuat mereka kelihatan kurang menarik di mata sang penculik.

Meski kini para wanita dari etnis minoritas Drung ini tidak lagi dalam keadaan terancam oteh penyerangan dari etnis minoritas lainnya, namun mereka masih terus mempertahankan adat-istiadat ini sebagai sebuah lambang kekuatan kedewasaan. Para anak gadis dari etnis minoritas Drung menato wajahnya ketika mereka berusia antara 12 dan 13 tahun sebagai sebuah simbol pendewasaan diri. Ada beberapa penjelasan yang berbeda, mengapa para wanita tersebut menato wajahnya. Sebagian orang mengatakan, bahwa warga etnis Drung menganggap wanita yang bertato terlihat lebih cantik dan para kaum Adam etnis Drung tidak akan menikahi seorang wanita yang tidak memiliki tato di wajahnya.

Di Indonesia Orang-orang Mentawai di kepulauan Mentawai, suku Dayak di Kalimantan, dan suku Sumba di NTB, sudah mengenal tato sejak zaman baheula. Bahkan bagi suku Dayak, seseorang yang berhasil "memenggal kepala" musuhnya, dia mendapat tato di tangannya. Begitu juga dengan suku Mentawai, tatonya tidak dibuat sembarangan. Sebelum pembuatan tato dilaksanakan, ada panen enegaf alias upacara inisiasi yang dilakukan di puturkaf uma (galeri rumah tradisional suku Mentawai). Upacara ini dipimpin oleh sikerei (dukun). Setelah upacara ini selesai, barutah proses tatonya dilaksanakan.

BAHAN PEMBUAT TATO

Awalnya, bahan untuk membuat tato berasal dari arang tempurung yang dicampur dengan air tebu. Atat-atat yang digunakan masih sangat tradisional. Seperti tangkai kayu, jarum, dan pemukul dari batang. Orang-orang pedalaman masih menggunakan teknik manual dan dari bahan-bahan tradisional. Bangsa Eskimo misalnya, memakai jarum yang terbuat dari tulang binatang. Di kuil-kuil Shaolin menggunakan gentong tembaga yang dipanaskan untuk mencetak gambar naga pada kulit tubuh. Murid-murid Shaolin yang dianggap memenuhi syarat untuk mendapatkan simbol itu, dengan menempelkan kedua lengan mereka pada semacam cetakan gambar naga yang ada di kedua sisi gentong tembaga panas itu.

Jauh berbeda dengan sekarang. Saat ini, terutama di kalangan masyarakat perkotaan, pembuatan tato ditakukan dengan mesin listrik. Mesin ini ditemukan pada tahun 1891 di Inggris. Kemudian zat pewarnanya menggunakan tinta sintetis (tinta khusus tato).

Bahkan, perusahaan Freedom-2 di Philadelphia telah menemukan serangkaian produk tinta yang lebih aman di kulit. Produk ini sudah disetujui Badan Urusan Makanan dan Obat-Obatan AS (FDA) untuk digunakan dalam dunia kosmetik, makanan, obat, dan peranti kedokteran - yang tentunya aman untuk tato.

MAKNA TAT0

Pada sistem budaya yang bertainan, tato mempunyai makna dan fungsi yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri, pernah ada masa di mana tato dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Orang-orang yang memakai tato dianggap identik dengan penjahat, gali, dan orang nakal. Pokoknya golongan orang-orang yang hidup di jalan dan selalu dianggap mengacau ketentraman masyarakat.

Anggapan negatif seperti ini secara tidak langsung mendapat "pengesahan" ketika pada tahun 1980-an terjadi penembakan misterius terhadap ribuan gali (penjahat kambuhan) di berbagai kola di Indonesia. Mantan Presiden Soeharto dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (PT. Citra Lamtorogung Persada, Jakarta, 1989), mengatakan bahwa petrus (penembakan misterius) itu memang sengaja dilakukan sebagai treatment, tindakan tegas terhadap orang-orang jahat yang suka mengganggu ketentraman masyarakat.

Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang itu penjahat dan layak dibunuh? Brita L. Miklouho-Maklai datam Menguak Luka Masyarakat: Beberapa Aspek Seni Rupa Indonesia Sejak Tahun 1966 (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997) menyebutkan bahwa para penjahat kambuhan itu kebanyakan diidentifikasi melalui tato, untuk kemudian ditembak secara rahasia, lalu mayatnya ditaruh dalam karung dan dibuang di sembarang tempat seperti sampah.

Tidak semua orang bertato itu penjahat memang. Tapi mengapa sampai terjadi generalisasi seperti itu? Apa kira-kira dasar atasannya? Apakah dulu kebetulan pernah ada seorang penjahat besar yang punya tato dan itu lalu dipakai sebagai ciri untuk menggeneralisasi bahwa semua orang yang bertatto pasti penjahat juga? Sayangnya belum ada studi mendalam yang bisa menguak pergeseran makna tato dari ukiran dekoratif sebagai penghias tubuh dan simbol-simbol tertentu menjadi tanda cap bagi para penjahat.

Tapi yang jelas telah terjadi "politisasi tubuh". Tubuh dipolitisasi, dijadikan alat kendali untuk kepentingan negara. Dalam kasus petrus di Indonesia, tubuh yang bertato dipakai sebagai alat kendali, suatu alasan untuk menjaga stabilitas negara. Untuk tingkat dunia, bisa disebut beberapa contoh kasus politik tubuh besar sepanjang sejarah peradaban manusia. Orang-orang kulit putih menerapkan sistem politik apartheid di Afrika Selatan hanya karena orang-orang Afrika "berkulit hitam". Dari Jerman, Hitler dengan Nazinya membantai orang-orang Yahudi hanya karena di dalam tubuh orang Yahudi tidak mengalir darah Arya, darah tubuh manusia yang paling sempurna yang pernah diciptakan Tuhan di bumi ini menurut Hitler.

Sebelum tato dianggap sebagai sesuatu yang modis, trendi, dan fashionable seperti sekarang ini, tato memang dekat dengan budaya pemberontakan. Anggapan negatif masyarakat tentang tato dan larangan memakai rajah atau tato bagi penganut agama tertentu semakin menyempurnakan citra tato sebagai sesuatu yang dilarang, haram, dan tidak boleh. Maka memakai tato sama dengan memberontak terhadap tatanan nilai sosial yang ada, sama dengan membebaskan diri terhadap segala tabu dan norma-norma masyarakat yang membelenggu. Orang-orang yang dipinggirkan oleh masyarakat memakai tato sebagai simbol pemberontakan dan eksistensi diri. Anak-anak yang disingkirkan oleh keluarga memakai tato sebagai simbol pembebasan.

Setiap zaman melahirkan konstruksi tubuhnya sendiri-sendiri. Dulu tato dianggap jelek, sekarang tato dianggap sebagai sesuatu yang modis dan trendi. Kalau era ini berakhir, entah tato akan dianggap sebagai apa. Mungkin status kelas sosial, mungkin sekadar perhiasan, atau yang lain. ME(Berbagai Sumber)

Berikut Diantaranya gambar-gambar atau model-model tato yang lagi tren saat ini :






nah,. di atas beberapa contoh model tato...
jika anda tertarik membuatnya di badan anda,
siahkan datang saja di Mall Panakukang Makassar, Jl.Pengayoman (Daimon)
lantai 3 dekat TIME ZONE,.
klo soal harga, tanya sendiri sama orangnya,.ok
Continue Reading | komentar (3)

Kain Tenun IKat Motif Patola (LIO)

Senin, 12 Januari 2009

Lio
Salah satu daerah di Flores bagian timur yang cukup menonjol dalam pembuatan kain tenun ikatnya adalah daerah Lio. Ragam hias kain tenun ikat dari daerah ini diilhami oleh kain patola India berupa motif ceplok seperti jelamprang pada kain batik. Selain motif ceplok, kain dari Lio ini juga dihiasi dengan motif daun, dahan, dan ranting. Kain patola diperkenalkan oleh para pedagang dari Portugis, yang pada abad keenam belas mengadakan perdagangan dan pertukaran kain patola dengan rempah-rempah dari nusantara bagian timur, termasuk di Flores. Bangsa Portugis, dan bangsa-bangsa Eropa lain (Belanda dan Jerman) meninggalkan pengaruh yang begitu besar, terutama karena banyaknya misionaris yang menyebarluaskan agama Kristen Protestan dan Katholik. Hingga saat ini agama Kristen banyak penganutnya di Flores.

Kain tenun ikat dengan motif patola mempunyai nilai tinggi. Oleh karena itu, daerah-daerah tenun di wilayah Nusa Tenggara Timur memiliki motif-motif patola yang diperuntukkan khusus bagi kalangan raja-raja, pejabat, dan tokoh adat yang jumlahnya terbatas. Kain tenun Lio dengan ragam hias patola ini juga hanya dipergunakan di kalangan keluarga kepala adat atau pendiri kampung yang disebut musalaki. Bahkan kain ini dianggap sangat istimewa hingga ikut dikuburkan bersama jenazah seorang bangsawan atau raja. Selain itu kain patola dari Lio yang panjangnya sampai empat meter, yang disebut katipa, digunakan sebagai penutup jenazah. Menurut P. Sareng Orinbao dalam bukunya Seni Tenun Suatu Segi Keburinycum Orang Flores, kata katipa sendiri mempunyai arti yang sama dengan patola, karena berasal dari lafal penyebutan tipa tola. Ciri khas motif tenun Lio yang lain adalah ukurannya kecil dengan bentuk geometris, manusia, biawak, dan lain-lain, yang disusun membentuk jalur-jalur kecil berwarna merah atau biru di atas dasar warna gelap.

Kain tenun Lio ini juga diberi hiasan tambahan atau aplikasi dengan manik-manik dan kulit kerang. Pakaian dengan hiasan khusus ini hanya dipergunakan dalam upacara-upacara adat tertentu. Di Pulau Sumba, kain sarung yang diberi hiasan manik-manik seperti itu hanya dipakai oleh wanita kalangan bangsawan saja.
Selain terkenal dengan tenunannya, Lio juga penghasil kerajinan tembikar berupa kebutuhan rumah tangga khususnya peralatan dapur yang terbuat dari tanah liat. Ada suatu kesamaan ragam hias pada kain tenun ikat dan barang tembikar yaitu goresan garis-garis geometris seperti bentuk meander, kait, belah ketupat, tumpal, dan lainnya, yang sering terdapat pada ragam hias ikat pada kain tenun dan anyaman.


Kain sarung Lio

Tenun ikat dari Lio menunjukkan kemahiran tenun dengan motif ikat yang halus dan rumit. Ragam hias pada kain dari daerah Lio menunjukkan banyaknya pengaruh kain patola dalam pembuatannya, seperti pada kain sarung ini. Kain ini dibuat dengan latar warna cokelat tua, diberi ragam hias berwarna cokelat muda campur kuning bergaris geometris dalam bentuk flora. Ragam hias dibagi dalam beberapa jalur. Jalur besar di tengah diapit jalur kecil dan di kedua ujung kain terdapat jalur¬jalur motif flora sebagai hiasan ujung dan hiasan pinggir.

Kain sarung yang mempunyai dua latar/dasar warna, yaitu tiga bagian berlatar gelap (cokelat hitam) dan satu bagian berlatar merah. Pada latar yang berwarna cokelat hitam dihiasi dengan motif patola ceplok bunga bersudut delapan warna kuning. Pada latar kain berwarna merah diberi ragam hias jalur-jalur yang diisi motif tumpal gaya pepohonan dan ranting-ranting serta ragam hias geometris.



Continue Reading | komentar (5)

Daftar Artikel Terbaru

Artikel Populer

Komentar Terbaru

 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. THE TACITURN "ISWANDY ILYAS" - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger